loading...
Dua orang anak berbusana adat Bali saat mengikuti persembahyangan misa
malam Natal di Gereja Katolik Tritunggal Maha Kudus di Desa Tuka,
Kabupaten Badung, Bali, 24 Desember 2016.
Sejumlah Umat Katolik mengambil air suci saat mengikuti persembahyangan
misa malam Natal di Gereja Katolik Tritunggal Maha Kudus di Desa Tuka,
Kabupaten Badung, Bali, 24 Desember 2016. (Johannes P. Christo)
Umat Katolik dengan memakai pakaian adat Bali memasuki gereja untuk
melaksanakan misa Natal di Gereja Katolik Tritunggal Mahakudus Paroki,
Desa Tuka, Badung, Bali, 24 Desember 2016. (ANTARA/Wira Suryantala)
Umat Katolik menggelar prosesi misa Natal di Gereja Katolik Tritunggal
Mahakudus Paroki, Desa Tuka, Badung, Bali, 24 Desember 2016. (ANTARA/Wira
Suryantala)
Sejumlah pelayan gereja mengikuti persembahyangan misa malam Natal di
Gereja Katolik Tritunggal Maha Kudus di Desa Tuka, Kabupaten Badung,
Bali, 24 Desember 2016. Altar gereja tersebut sangat kenal dengan ukiran
dan hiasan khas Bali. (Johannes P. Christo)
loading...





BALI adalah satu2 daerah di indonesia yg bener2 demokrasi bisa mau menerima perbedaan cultures makanya knp org barat lebih menyukai Bali di samping pulau wisata dan masyarakatnya gga fanatik agama kelebihan dan mau bertoleransi .dengan org luar bali dan bangsa 2 barat ......gga kayak di jakarta ambur radul dan Bali masih menunjukkan wajah indonesia klassik tempo doeloe di mana masa2 Hindu Jawa dr jaman abad lampau dan budaya nasional seperti Kondek dan sarung udeng dan kebaya khas indonesia yg di jawa sendiri sudah mulai jarang akibat tekanan ormas dr arab yg radikal kayak MUI atau si BERIZIEKK
ReplyDelete