loading...
Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra,
Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis pekan lalu masih
menyisakan cerita. Bukan soal kasak-kusuk isu yang diperbincangkan oleh
keduanya, tapi pemandangan intim dua jagoan yang pernah bertarung dalam
satu arena kontestasi politik itu.
Mereka seolah menunjukkan tak seperti pernah menjadi rival politik,
betapa pun sengitnya suasana Pilpres 2014. Banyak kalangan yang kemudian
menyanjung pertemuan kedua tokoh ini sebagai pertemuan yang menyejukkan
di tengah panasnya tensi politik dalam beberapa pekan terakhir.Prabowo dipuji lantaran mempertontonkan sikap negawarawan. Menanggalkan sisa-sisa ego pribadi pada Pilpres 2014. "Salut kepada Pak Prabowo. Dari dulu tampak sekali kematangan dan kenegarawanannya," puji Rois Aam Nahdlatul Ulama, KH. Musthofa Bisri alias Gus Mus di Facebook.
Pujian terhadap Prabowo juga datang dari calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Menurut Anies, Prabowo begitu kesatria saat datang menemui presiden untuk menyampaikan pertimbangan-pertimbangan dalam rangka menjaga keutuhan NKRI dan bersama memajukan bangsa. Anies pada saat Pilpres 2014, pernah menyerang Prabowo meskipun dia kini maju sebagai kandidat gubernur DKI berkat pencalonan.
Tapi terlepas dari penilaian bahwa Prabowo seorang negarawan atau tidak, pertemuaannya dengan Jokowi di Istana adalah pertemuan politik. Menurut Direktur Eksekutif PARA Syndicate, Ari Nurcahyo safari politik Jokowi, termasuk bertemu dengan Jokowi bisa jadi sebagai isyarat bahwa Gerindra akan merapat ke pemerintahan Jokowi.
“Mungkin saja, efektivitasnya seperti apa? Ada kemungkinan Gerindra akan merapat terhadap koalisi partai pemerintah saat ini melihat hubungan Pak Jokowi dan Prabowo yang terlihat semakin baik," kata Ari kemarin, dalam diskusi “Akankah Gerindra Merapat?"di Jakarta, kemarin siang.
Dia justru mempertanyakan peran dari kabinet dan posisi partai koalisi yang dinilainya tidak jelas loyalitasnya. “Saat Pak Jokowi ke sana kemari melakukan konsolidasi, tak satu pun partai pendukung maupun menterinya yang terlihat menemani,” kata Ari.
Berbicara di acara yang sama, pengamat politik, Ray Rangkuti menilai Gerindra berpeluang masuk pemerintahan Jokowi-JK. Kata Ray ada beberapa indikasi yang menunjukkan peluang itu. Salah satunya adalah pernyataan Prabowo yang menyatakan siap membantu presiden kapan pun dimana pun yang dinilai Ray sebagai sinyal paling kuat.
Setelah Pilpres 2014, peta politik sebetulnya berubah. Gerindra dan beberapa partai yang mendukungnya saat Pilpres membentuk Koalisi Merah Putih dengan suara mayoritas di DPR. Belakangan, satu-satu partai pendukung menyatakan keluar dari Koalisi meninggalkan Gerindra dan PKS. Setelah PAN menyatakan bergabung dengan pemerintah tahun lalu, Partai Golkar pun ikut menyusul.
Kemarin, ketika menemui Ketua Umum PDIP, Megawati; Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto menegaskan kembali dukungan partainya akan mendukung pemerintah. “Kami berkomitmen bersama bahwa lndonesia harus aman, damai, tenteram,” kata Setya.
Dan kalau benar, Gerindra kelak bergabung juga ke pemerintahan maka sudah tidak ada lagi oposisi pemerintah. Pada saat itu, yang dibutuhkan mungkin memang para negarawan bukan sistem demokrasi dengan oposisi sebagai pengimbang kekuatan pemerintah.
Rimanews.com
loading...

Comments
Post a Comment