Katanya Aksi Bela Islam, Ternyata Faktanya Mengejutkan. Simak, Membuka Topeng Para Pendemo Ahok...!!
loading...
Menatap Balada Islam Anti Pancasila dan NKRI
Ketika
dalam sebuah diskusi terbuka di tahun 2012 bertepatan dengan Hari
Lahirnya Pancasila di Gedung Juang 45, dan saya berkebetulan jadi
salahsatu narasumber. Moderator meminta pendapat saya tentang pengibaran
bendera Bintang Kejora oleh aktivis Organisasi Papua Merdeka dan
tuntutan berdirinya Khilafah Islamiyah oleh Hizbut Tahrir Indonesia.
Lugas
saya jawab, "penjarakan saja siapapun yang menggerakkan dan ikut
mendukung aksi itu, bahkan sekalipun jika aksi itu diam-diam didukung
elit politik di pusat".
Saat
itu, saya 'menyundul' Yorries Raweyay yang menyatakan bahwa pengibaran
bendera OPM itu tidaklah masalah. Padahal bagaimana mungkin tidak
masalah, karena bendera OPM adalah simbol 'negara', setidaknya itulah
prinsip para penggeraknya. Pernyataan itu jelas mendukung semangat
separatisme, dan menurut saya mesti ditumpas.
Mengamati
aksi 4 November saya menjadi ingat diskusi empat tahun lalu itu. Saya
melihat kita seperti sedang menonton aksi telanjang para anasir anti
Pancasila dan NKRI mempertontonkan keberanian mereka dan aparat kita
masih santai saja.
Jika
kita mencermati para tokoh aksi kemarin lalu itu, tak sulit untuk
melihat, sekali lagi dengan telanjang, bagaimana sikap dan orientasi
politik mereka terhadap Pancasila dan NKRI selama ini.
Banyak
yang terlena dengan slogan (Bela Al-Qur'an dan Bela Islam) sehingga
lupa bahwa aksi bela apapun tidak serta merta meruntuhkan konsensus
nasional kebernegaraan kita. Dan kita juga tak boleh lupa, siapa
penggerak dibalik seruan slogan itu. Saya mengamati perjalanan beberapa
penggerak aksi kemarin, diantaranya :
1.
Bachtiar Nasir Ketua GNPF MUI (Sekjen MIUMI dibawah naungan Farid
Akhmad Okbah, seorang radikal berpaham Wahhabi yang sangat anti NKRI);
2.
Abu Djibril (Berpaham Wahhabi Ekstrim, ia mengirim anaknya menjadi
Pasukan Al-Qaeda , pentolan Majelis Mujahidin Indonesia MMI); Ia
berkali-kali secara terbuka menentang Pancasila dan NKRI. Anaknya yang
satu lagi jadi tersangka kasus Bom JW Marriot dan Rizt Carlton.
3. Zaitun Rasmin Wakil Ketua GNPF-MUI (Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, perpaham Wahhabi); anti pluralisme
4.
Munarman, selaku panglima lapangan (orang yang pernah melakukan sumpah
setia terhadap ISIS). Beberapa kali terlibat aksi kekerasan terhadap
pihak yang toleran.
Dibelakang
aksi mereka, tokoh-tokoh partai tertentu (Ikhwanul Muslimin cabang
Indonesia); Hizbut Tahrir Indonesia, yang pastinya terkoneksi dengan
gerakan khilafah internasional; tokoh-tokoh partai, yang partai nya
justru mendukung pemerintah, tapi gerakan politiknya malah anti Jokowi;
mereka sengaja tak muncul karena takut organisasinya dibubarkan kalau
terjadi chaos dan anarkis; dan pastinya ada tokoh yang berperan sebagai
sumbu utama.
Orang-orang
diatas adalah orang yang paling getol menyuarakan Anti NKRI dan ingin
menegakkan Khilafah di Negara ini, dengan cara merusak Ideologi
Pancasila.
Tidaklah
sulit sesungguhnya melacak portofolio orientasi dab gerakan politik
mereka. Yang membingungkan jika aparat keamanan terus saja membiarkan
mereka terus mempropagandakan slogan anti Pancasila dan NKRI.
Tidakkah
seharusnya mereka ditindak, bahasa halus dari ditumpas, jika menentang
konsensus nasional yang dikobarkan lewat semangat Proklamasi 17 Agustus
1945?
Saya mendengar Panglima TNI menyatakan akan menumpas gerakan apapun yang menentang Pancasila dan NKRI.
Janganlah
jadi perang slogan, karena penentangan mereka sudah bukan lagi semata
slogan tapi sudah sering berwujud tindakan. Dan itu harus ditindak,
kalau tak mau saya sebut ditumpas.
Mengganti Pancasila dan NKRI itu berarti mengganti dasar negara.
Rumah
yang diganti fundamennya, sama saja merubuhkan rumah yang sudah ada
lalu menggantikannya dengan rumah baru dengan fundamen berbeda.
Kenapa
mereka yang ingin negara Islam tidak pindah saja ke Arab Saudi,
misalnya. Ketimbang rakyat lain yang mayoritas dipaksa ikut serta dalam
keinginannya. Toh mereka tidaklah banyak.
Sore
ini saya menyeruput teh pahit ditemani kurma. Kurma tak pernah membuat
saya jadi seorang arab. Sama seperti menjadi seorang muslim tidak serta
merta membuat saya jadi harus butuh negara Islam.
Kurma,
arab dan Islam tidaklah harus selalu diposisikan satu. Dari tempatnya
berada, nenek moyang saya yang tidak diragukan ke-islamannya tersenyum.
Karena setidaknya saya dipandang mampu memahami makna agama yang mereka
warisan dan ajarkan pada anak keturunannya.
loading...

Comments
Post a Comment